SEJARAH AWAL MULA GELAR DEPATI DI KERINCI

OLEH : Bopi Cassia Putra 
(Sejarawan Kerinci - Jambi )

Depati berasal dari kata Adhipati. Kata  Adhipati sendiri berasal dari bahasa Sansekerta.  Artinya ketua, pemimpin, pangeran, raja. 

Adhipati/Depati adalah wakil raja pada suatu wilayah. Kalau di Jawa, wilayah seorang Adhipati/ Adipati disebut Kadipaten. Adhipati tunduk pada struktur pemerintahan pada sebuah kerajaan. 

Di Alam Kerinci, kelompok-kelompok masyarakat adat yang semula sudah ada, diberikan pengakuan oleh Kerajaan Jambi  dengan ditegakkannya kedepatian, atau  menegakkan wakil raja guna menegakkan hukum raja. Untuk itu diberikan kepada kedepatian tersebut CELAK PIAGAM.

CELAK adalah pengakuan raja atas batas ulayat adat sebuah kelompok masyarakat adat. Sedangkan PIAGAM adalah keterangan ditegakkannya Depati dari kelompok masyarakat adat tersebut berikut kekuatan hukumnya.

Kedepatian itu baru wujudnya di Alam Kerinci. Dimulai sejak pertengahan abad 16 M. Sebelumnya, pemimpin sebuah kelompok masyarakat adat, ataupun disebut sebagai penghulu, ataupun ninik mamak menyandang gelar antara lain; Rio (asal kata Arya-gelar  bangsawan; bahasa Sansekerta), Ijung (mungkin ini gelar  asli dari Kerinci), Datuk (lazim dipakai sebagai gelar pemimpin di Alam Melayu)  dan lain sebagainya.

Ada istilah dalam adat Kerinci; "anak membesarkan bapak." Artinya keninik-mamakan itu sudah ada terlebih dahulu, kemudian keninik-mamakan tersebut selanjutnya meminta dukungan politik kepada Kerajaan Jambi guna menegakkan  sebuah kedepatian guna lebih mengukuhkan keberadaan kelompok adat tersebut dan pengakuan atas sebuah ulayat. 

Sejak dahulu kala, tidak ada sejarahnya Kerajaan Pagaruyung berperan, ataupun mempengaruhi kedepatian di Kerinci. Kalau hubungan kekerabatan mungkin ada. Banyak dusun di Kerinci yang leluhurnya datang dari Minangkabau, ataupun Pagaruyung. Dan itu dibuktikan dengan pernyataan tembo bertuliskan Incung sejak ratusan tahun lalu. Tapi walau demikian, mereka tetap mempertahankan identitas Kerinci sebagai sebuah identitas budaya yang bukan Minang dan bukan pula Melayu Jambi. Mereka tidaklah merusak tatanan adat istiadat yang sudah mengakar melembaga sebagai jati diri orang Kerinci. 

AJUN SEKALI AJUN. ARAH SEKALI ARAH. SUMPAH SEKALI SUMPAH. 
BEKU  KARANGSATIO!

Posting Komentar

0 Komentar