MENURUT TAMBO, TANAH ALAM KERINCI BERASAL DARI SOSOK ULAR SAKTI.

Gambar Oleh : Deki Syaputra

Andalasnews.com, Sakti Alam Kerinci - Menurut Tambo Kemantan dari beberapa helai kertas. Beberapa helai kertas disambung-sambung jadi gulungan panjang, bertulisan Melayu. Sebagian kecil kelihatan Bunyinya menurut salinan guru Abdulhamid daripada surat asli yang isinya berbunyi:

Dan tatkala usul dan masa dan tatkala masa jaman dahulu, Adam pun belum ada, selutan pun belum ada, raja yang tiga silo pun belum ada. maka pa’lum lima jurid ditakdirkan Allah ta’ala ‘aras dan kursi/ surga dan neraka bumi dan langit bulan dan matahari dan batu beramu dan bumi itu baru seujo ceper dan langit itu baru seujo dulang.

Tatkala bumi bersintak turun tatkala langit bersintak naik, ibutpun belum bernama ibut², baru beribut ke selatan, rumputpun belum bernama rumput, baru bernama umput rantai, belum ada ikut yang garang, baru berikut dayu-dayu, belum ada rumput yang panjang, baru berumput daun kayu, itupun bernama ibut.

Tanah besar teridiri dahulu, negeri yang tiga dilebihkan Allah.
pertama Mekah kedua Madinah, dan ketiga Baitulmukaddas. Dan kelebihan Mekah baitullah pintu ka’abah belum terbuka.

Jatuh tukung (pukul) menjadi petir, jatuh pasak menjadi kilat, maka boleh sami’ ‘mendengar, basir melihat, kalim berkata, bulan dan bintang dijadi keterangan, maka terbuka pintu ka’bah, maka berjalan ke padang ‘Arafah, maka memandang kudara, terbanglah burung ber-kawan², maka berkata Adam:

"baiklah aku seperti burung terbang ber-kawan². Maka Adam pun sembahyang dua raka’at, maka dengan takdir Allah ta’ala keluarlah Siti Awal daripada kiri Adam. Maka beroleh pusaka Siti Awal satu bagi, dan beroleh pusaka Adam dua bagi. Maka berjawab ijab dengan kabul, maka dengan takdir Allah, beranak tiga kali beranak, anak yang pertama-tama dua orang, itulah kaum sekalian manusia, anak yang kedua sembilan orang, itulah kaum sekalian kafir, anak yang ketiga itulah Sultan Usul namanya.

Kemudian daripada itu kala, Allah berfirman : "Inni ja’ilun fi l’ardi khalifatan"

Artinyo : Aku jadikan Rajo diateh dunia ini untuk menjadi wakil Aku"

Maka Adam pun berkata kepada Jibrail: "Siapa isteri Sultan Usul ?
Maka Jibrail pun turun ke hadarat Allah ta’ala, dan di dalam surga jibrail (Jibril As) mendapatkan Mendari Bunsu sedang asyik menyungkit menarawang kain suri sutera. Maka Jibrail pun berbalik ke atas dunia, maka Mendari pun dipertemukan Allah dengan Sultan Usul, maka setelah itu berjawablah ijab dengan kabul di awal udara.

Setelah itu Maka ditakdirkan Allah ta’ala Mendari Bunsu mendapat anak tiga orang, pertama-tama Sultan Meraja Alif dan kedua Sultan Meraja Dipang dan ketiga Sultan Raja Dirajo khalifatullah.

Dan Sultan Meraja Alif balik ke Bandar Ruhum, sungainya itam batu puding, pancuran mas negeri Mekah. Dan Sultan Meraja Dipang balik ke Bendar Cina, batu putih telaganya perak, burungnya seekor di awang udara adanya. Dan Sultan Rajo Dirajo khalifatullah kasetero pemuncak ‘alam, pegangnya batu kacang sungai beremas, barentek digamut berentak dinapang, di situlah makoto terlebih sati.

Kemudian daripada itu ditakdirkan Allah ta’ala, maka adalah suatu Puti di Batu Sangkar, maka berjawab ijab dengan kabul antaro Sultan Rajo Dirajo khalifatullah dengan puti di batu sangkar, kemudian maka dapat anak delapan orang.

Kemudian maka ditegak balai buntak besendi gading, panjang tujuh, sengkanya enam, berasuk gading selalu, bersendi segading tunggal, bertiang teras jelatang, batabuh batang pulut², begendang begendang batang cino guri, begantang jangat tuma, sekertum balai berleret, bajirung balai malintang, tujuh pingkat selapan penjuru, betanduk guwang gading suasa, balapik tilung badada tilung, lapik tilung pandan beguris, dibawa alang kuari, payung mengapit kanan dan kiri, payung tekembang adat di belakang, maka ditengkek balai anjung malintang tinggi.

Maka memandang ke laut ujo, tampatlah "ular seketi muno", maka meminto Sultan Rajo Dirajo, maka adalah pusako yang tigo: pertama cunek serangin lalu, kedua cunek serangin gila dan ketiga cunek sembilan giring, ulunya kuning sumbing seratus.

Kemudian maka terompak (Terbunuh) lah Ular seketi muno, Atas kuasa Allah, ekornya jadi bukit se-guntang² (Perbatasan Jambi dan palembang), pedunya Serampeh Sungai Tenang, dadonya itu jadi tanah kerinci, kepalanya Gunung berapi, pusatnya ‘alam Sungai Pagu, punggungnya ‘alam Minangkabau, tangan kanan ke Inderapura, tangan kida ke Enah Giring (indra giri).

Sudah menetak Seketi muno maka hilang sembilan girirng, maka dikadukan di Rajo yang tigo selo, maka tahu daripada pedang sudah hilang, maka kedengaranlah suara di awang-awang, maka tedenda seguling batang, sekuning lembia, selesung pasuk, selengan baju panjang, seruas telang di rimba. Maka diadakan beras hitam, beras putih, dasun babawang, kulit manis, pinang batanduk, sirih badagang, tebu becap manis babuli, tuak dengan babuluh, nasi baambung, gulai babakung, kelapa betali, ketutu tiga gayo, ketitir panjang ranto, puyuh panjang dengung, ayam simbar ekor, maka diperadapkan sembah kepada Jibrail, maka terdiri cunek sembilan giring, sudah menetak seketi muno jadi sumbing seratus sembilan puluh.

Maka tumbuhlah kayu antara Mekah dan Madinah. berurat ada seurat, babatang ada sebatang, badahan ada sedahan, badaun ada sehelai, uratnya cemeh yang dua belas, batunya menjadi undang² yang dua lapan, dahannya jadi teliti, daunnya jadi isyarat, babunga ada setangkai, babuah ada sebiji, ber-gilang² rupanya, jatuh buah menimpa bangka, maka adalah Datuk Rangkang Pamuncak Alam, maka didaki gunung berapi, melingo ilir, memandang mudik………..tampaklah bayang luak selapan dibaruh batu berliyir, di situlah bayo putih daguk.

Maka memandang ke Pariang Padang Panjang, tampaklah seorang suatu rajo, duduk di balai buntak besendi gading, maka di ruang imbo yang dalam, maka terompak Pariang Padang Panjang.
Maka tetepat di balai Buntang besendi gading, maka ditangkap kerbau jantan sebanua. Maka dipotong kerbau itu, dipasah idak bajangkat, disait idaknya genap. Maka ditambah dengan kambing irang kenantan tanduk, dado putih punggung kuning.

Tatkala itu cupak babatih gantang babelah, yang segantang kurang dua lima puluh tahil. Datuk Rangkang Pamuncak Alam masakan (red. Sedang) duduk di setera pamuncak alam di bawah payung sekaki, karang setia yang semangkuk, jikalau tidur berbungkus cina, jikakau makan betabang-tabang, minum air bejamu-jamu. Maka berkatalah Sultan Seri Kali, segala tuan yang gedang², segala tuan yang kayo², jikalau bulih permintaan saya, perjalanan Datuk Rangkang jangan dilarang, supaya bumi kita ini senang.

Datuk Berpayung putih membawa ukur bailok, membawa pantak dengan tiga buah, berjalan tidak ngida dan tidak nganan, orang sujud pada Allah dan sujud pada Rasul. Maka Rajo yang delapan itu masing² mencari tempat.

Pertama nah giring malimpah Kuantan lalu ke pangkalan, itulah mula² menjadi Rajo Nahgiring yang bernama Sultan Jumadil Iman, anak Yang dipertuan di Pagaruyung juga adanya.

kedua balik ke luak Agam Tanah Datar, melimpah ke luak Lima puluh, itulah mula² menjadi raja di luak Agam Tanah Datar, yang bernama Sultan Seri Kali anak Yang dipertuankan di Pagaruyung juga.

Ketiga balik ke Bandar Aceh, Bandar Aceh melimpah ke Batu Bara, Itulah mula² menjadi raja, itulah yang bernama Seri Pangkat.

Yang keempat ke Sungai Pagu melimpah ke Pasisir balik Bukit, lalu ke Benda Sepuluh, itulah mula² menjadi raja di Sungai Pagu, Sultan Besar Bergumbak Putih.

Yang kelima ke Inderapura pegangnya Bandar Sepuluh bandar yang besar, maka buluh masuk kuala Padang, sejak dipisah piso anyut, sejak dirau bertongkat arang, sejak dinibung belantak intan, sejak seketak air itang, sejak sekilang air Bangis, sejak di Tiku Pariaman mudik, sejak di guo kelam kemarin, itulah yang mula menjadi Inderapura yang bernama Sultan Muhammad Syah.

Yang keenam balik ke Bantan Muko-muko terus ke Jawa, lalu ke Mentarang, itulah mula² menjadi raja negeri Bantan Muko² yang bernama Sultan Mukai Batu.

ketujuh balik ke negeri Palembang, lalu ke Bugis dan lalu ke Mentawai, itulah mula menjadi raja negeri Palembang yang bernama Sultan Inda Rahim.

Yang keselapan balik ke negeri Jambi, melimpah ke Batang Hari, lalu kerenah Kerinci, itulah yang mula² menjadi rajo negeri Jambi yang bernama Sultan Baginda Tuan/ Sultan Sri Padi.

Kemudian daripada itu kayu lah berlareh dan sungai lah babatang dan tanah lah begabung, Sultan Besar memegang tanah Jambi dan sembilan lareh alam Jambi dan sembilan lareh alam Palembang dan tujuh puncak alam Jambi dan tujuh puncak alam Palembang.

Di dalam puncak yang tujuh, menusun ke puncak yang dua: Puncak yang pertama Batang Ari, puncak yang kedua ‘Alam Kerinci, itulah puncak Jambi. Kemudian maka dicacak negeri di tanah pilih, maka begelar tanah pilih. Maka begelar tanah pilih sembuang kenantan cuci dan segetan pucuk seribu, dan ceno guri pucuk seribu dan sebatang talang merindu, maka dientak tamilang dilarikkan tanah bato, direntak kepalo negeri dapat bedil setundo musuh di tengah negeri, dapat gung setimban Jambi, dan dapat bedil segetar mas, direntak kor negeri dapat bedil sekupi kala, baru baparit dua mambo, maka adalah Pangeran Temenggung kebul di bukit, maka adalah Ratu yang berdua, adalah Sutan yang berempat, adalah Jenang yang tiga puluh.

Tatkala Pangeran kabul di bukit naik Alam Kerinci membawa tali empat belas tukal, membawa kain panjang selapan hendak mengukur gabung tanah. Di dilir jak tetepat pulau Tiung, di mudik gading terentak, dapat tanah empat belas gabung. Di mudik batang Selangun tetepat balai kecil Muara Masume dan tujuh batu bagalo cimbung, kesiknya………….air salunya segajah mandi. Maka di mudik Batang Merangin tetepat salam muku, salam muku tetepat rajo, tanah nah kayu batanam, lubuk gaung batating sirih.

Maka jadilah rajo yang tiga urang : Pertama Dipati Setio Rajo, kedua Dipati Tio Nyato, yang ketiga Dipati Tiung ti. Kemudian maka begelar Setio Rajo duduk di Batu Hampar, bersandar di tiang aras memegangkan tiang sendi bumi.

Maka bergelar Dipati Tiung Nyato, pandai menyatokan kato rajo.

Dan maka begelar Dipati Tiung Meti, pandai memetikan (red. Menyimak dengan seksama) kata rajo.

Kemudian maka ditempuh penguatan Lubuk Sam, didaki bukit kemuro, diteke jenjang yang tiga, maka didaki bukit kemuju dan naik Serampas Sungai Temang, menyacak rajo di Sungai Tenang dan bergelar Dipati Gento Nyalo dan Rio Peniti. Maka bergelar Dipati Gento Nyalo, menyalokan kato rajo. Maka bergelar Rio Peniti, meniti kato rajo.

Maka diturun bukit kemujur, maka tetepat pondok yang tiga buah negeri di dilir pondok bekedai, di mudik bapondok panjang, di tengah bapondok tinggi. Kemudian maka melayang di Sungai Banang batang Penetai, maka didaki bukit sembilan tanggo, pematang panjang setimbun parut, maka tetepat di dusun Tanjung muara Sake, maka ditempuh batu Pelarah, maka didaki bukit badengung, maka tetepat tanah Sanggaran Agung, itulah ujung tanah khalifah.

Dan tatkala raja naik dan jenang naik, mencacak rajo di ulu sungai, maka jadilah raja yang empat urang, pertama Dipati Mendaro Langkat dan kedua Dipati Rincung Talang dan ketiga Dipati Bian Sari dan keempat Dipati Batu Hampar.
Dan tiga di baruh, empat di atas. Maka jadilah dipati empat delapan helai kain, sungai bagian tungun.

Kemudian daripada itu diilir kerbau yang tiga ekor, maka mudiklah beras yang sembilan ratus ke tanah nah anto Salamuku. Maka dipotong kerbau yang tiga ekor, darah dikaco, dagingnya dimakan, atinya jadi karang setio, dan sedalam bumi setinggi langit, da’ lapuk daripada hujan, da ‘lekang daripada panas, maka dikaco karang setio, di bawah payung sekaki dak boleh kecut, dan karang setio yang semangkok tak boleh terlimbat di atas sendi kerajaan yang sebuah, dak boleh tergilit. Maka jatuh adat dengan pusaka, maka negeri bupagar adat, tapian bapagar baso, padang bupaga malu, tebing budingkek dingan undang adat kawi kitab Allah. Lazim syara’ tegantung di-awang², kitabullah membubung naik ke langit, berebat jangan dipanjat, besawa jangan ditempuh. Siapa memacak boleh utang, siapa menempuh bulih baris. Dan tanduk kijang becipang tujuh betulak mudik, keluk kati kegumbak mas betulak ilir, tumbak belang di Sanggaran Agung, Talang Genting ke Tebing Tinggi, undang² tanah Seleman, piagam di tanah Hiang, celak berjalan Penawar Tinggi. Maka dengkek balai panjang selapan tingkat dan panjang sembilan perbayo tergantung tinggi………………..di bawah au tempat mandi di Lubuk Batu.

Sumber : Tambo Kemantan
Ditulis/salin ulang Oleh : Andi Andalas
Gelar : Ijung Putih Tuo

Posting Komentar

0 Komentar