Tradisi bakar kemenyan yang nyaris hilang di kerinci


Penulis : 
SAFWANDI 
GELAR (DEPATI IJUNG PUTIH TUO)

Dupa/kemenyan

Jika anda adalah salah seorang yang tumbuh besar dikalangan tradisi kerinci, pasti akan menyaksikan kebiasaan orang tua dulu yang selalu membakar kemenyan, lebih-lebih saat maghrib. Namun sayangnya tradisi tersebut saat ini sudah mulai jarang ditemui.
Ada anggapan kuat pada sebagian pemeluk agama Islam bahwa kemenyan berkaitan dengan praktik-praktik syirik atau menyekutukan Tuhan.
Pandangan ini terus disuarakan sehingga lambat laun kemenyan mulai jarang digunakan, hanya pada masayarakat tertentu dan dalam kondisi tertentu.
Pandangan tersebut tentu bermasalah karena kemenyan bukan merupakan bagian dari ibadah, ia hanya berfungsi sebagai membantu orang dalam beribadah. Dengan bakar kemenyan ada efek aromaterapi sehingga orang mudah berkonsentrasi atau khusuk.
Pandangan tentang kesyirikan juga tidak memiliki pijakan historis dalam praktik Nabi. Berdasarkan berbagai sumber, Nabi senang membakar wewangian, entah itu bersumber dari kemenyan maupun gaharu.

Sebagai ajaran penyempurna, Islam menerima estafet spirit keagamaan dan beberapa praktik keagamaannya. Beberapa ajaran dari agama sebelumnya diadopsi oleh Islam dan diberikan nuansa Islam oleh nabi. Seperti tradisi khitan. Tradisi ini berasal dari tradisi Nabi Ibrahim yang dianggap baik oleh Nabi, sehingga beliau pun menganjurkan umatnya untuk berkhitan.
Dalam beberapa kitab klasik disebutkan bahwa nabi memiliki tempat khusus untuk bakar kemenyan atau gaharu. Fungsinya untuk memberikan efek wangi pada ruangan atau baju yang dikenakan karena terkena asap kemenyan.
Selain dari hadis, tradisi bakar kemenyan atau wewangian ruangan juga dilakukan oleh para sahabat Nabi. Dari Abu Bakar sampai dengan Ali bin Abi Tholib. Bahkan, kemenyan tidak hanya dibakar melainkan dikonsumsi untuk dimakan, terutama bagi wanita yang sedang hamil.

Demikian juga dengan kemenyan. Tradisi membakar kemenyan juga dilakukan oleh hampir seluruh tradisi keagamaan, sampai sekarang. Tidak hanya agama yang bersumber dari kitab suci atau agama samawi/agama langit (Islam, Kristen, Yahudi) tetapi juga agama yang berasal dari tradisi atau agama ardi/agama bumi. Kedua kategori agama tersebut sama-sama menggunakan kemenyan atau wewangian berupa dupa dalam berbagai macam tradisinya.
Pada  saat nabi adam diturunkan oleh Allah ke dunia ada beberapa benda yang juga diturunkan beserta beliau, Diantara benda-benda tersebut adalah :
1. Hajar aswad
Batu Maqam Nabi Ibrahim
3. Kayu dopa/kemenyan
4. Tongkat Nabi Musa
5.Daun-daunan Pohon Tin
6. Cincin Nabi Sulaiman As
7. Batu-batuan yang Nabi Muhammad Saw ikat di Perut Beliau

SAFWANDI
GELAR (DEPATI IJUNG PUTIH TUO)

Kembali soal kemenyan, Kayu ini salah satu jenis kayu yang mempunyai wangi-wangian yang sangat harum, di daerah indonesia biasa disebut kayu kemenyan ataupun dopa, cara penggunaannya cukup sederhana yaitu dengan cara membakarnya sehingga asap dari kayu tersebut akan menyebarkan bau wangi, sunat bagi kita membakar kayu bukhur (kemenyan) di ketika berzikir kepada allah, di majelis ilmu dan pula di samping si mayit karena manakala ada bau yang tidak sedap dari si mayit dapat ditutup oleh bau kayu kemenyan tersebut
sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kitab Al-Majmu' Syarah Muhazzab juzu' 3 hal 160. di antara keutamaan kayu ini adalah dapat mencegah datangnya kutu pada pakaian, sebagaimana dikatakan oleh imam jalaluddin As sayuti :” siapa yang membakar kayu kemenyan kemudian diasapkan pada pakaian insyaallah terhindar pakaiannya dari pada kutu selamanya”.

Disadur dari belbagai sumber

Post a Comment

0 Comments